TEBUIRENG LOMBOK - Keutamaan ilmu dan kemuliaan orang-orang yang berilmu menjadi pembahasan utama dalam pengajian rutin Jumat sore di Pesantren Sains Tebuireng Lombok, Jumat (9/10/2026). Pengajian yang disampaikan oleh Mudir ‘Aam Pesantren Sains Tebuireng Lombok tersebut mengkaji kitab Adabul Alim wal Muta’allim karya Hadratussyekh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, khususnya pembahasan tentang keutamaan ilmu.
Kegiatan ini diikuti oleh dewan guru, pengurus pesantren, para santri, serta jamaah dari lingkungan sekitar. Pengajian tersebut menjadi bagian dari upaya pesantren dalam memperkuat tradisi keilmuan Islam sekaligus menanamkan nilai-nilai adab dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kitab Adabul Alim wal Muta’allim, KH. Hasyim Asy’ari menjelaskan kemuliaan ilmu, kedudukan orang berilmu, serta keutamaan mempelajari dan mengajarkan ilmu. Salah satu landasan yang dibahas adalah firman Allah SWT dalam Surah Al-Mujadalah ayat 11, yang menerangkan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.
Pesan utama dari pembahasan tersebut adalah bahwa ilmu memiliki kedudukan mulia karena dapat membimbing manusia menuju kebaikan. Namun, kemuliaan ilmu perlu diwujudkan melalui pengamalan dan perilaku yang mencerminkan akhlak terpuji. Ilmu tidak semestinya berhenti sebagai pengetahuan yang tersimpan dalam pikiran, tetapi harus menjadi pedoman dalam bertindak, mengambil keputusan, dan menjalani kehidupan.
Mudir Aam mengajak para santri untuk menumbuhkan kesungguhan dalam belajar, menjaga niat, menghormati guru, serta membiasakan diri mengamalkan ilmu yang telah dipelajari. Menuntut ilmu bukan sekadar untuk memperoleh prestasi akademik atau kedudukan sosial, melainkan juga sebagai ikhtiar untuk meningkatkan kualitas iman, memperbaiki akhlak, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ilmu, Amal dan Adab Tidak Dapat Dipisahkan
Pembahasan keutamaan ilmu dalam kitab Adabul Alim wal Muta’allim juga memberikan penegasan bahwa kemuliaan ilmu berkaitan erat dengan tanggung jawab moral orang yang memilikinya. Orang berilmu diharapkan mampu menunjukkan keteladanan melalui perkataan dan perbuatan, bukan hanya melalui keluasan wawasan.
Bagi santri, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan dalam menuntut ilmu harus disertai dengan kesungguhan beribadah, kedisiplinan, kejujuran, kerendahan hati, dan penghormatan terhadap sesama. Adab menjadi bagian penting dalam proses pendidikan karena ilmu yang dipelajari diharapkan membentuk pribadi yang lebih baik.
Nilai tersebut juga relevan bagi para guru dan pengurus pesantren. Tugas mendidik tidak hanya berkaitan dengan penyampaian materi pelajaran, tetapi juga dengan keteladanan dan pembentukan karakter. Melalui perpaduan ilmu, amal, dan adab, pendidikan diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan matang dalam berperilaku.
Menghidupkan Tradisi Majelis Ilmu di Pesantren
Pengajian rutin Jumat sore menjadi salah satu sarana untuk memperkuat hubungan antara tradisi keilmuan pesantren dan kehidupan masyarakat. Kehadiran dewan guru, pengurus, santri, serta jamaah sekitar menunjukkan bahwa majelis ilmu dapat menjadi ruang bersama untuk belajar, memperdalam pemahaman agama, dan mempererat silaturahmi.
Melalui kajian kitab karya ulama besar pendiri Nahdlatul Ulama tersebut, Pesantren Sains Tebuireng Lombok terus berupaya menanamkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan yang berjalan seiring dengan pembinaan akhlak dan spiritualitas.
Pengajian ini diharapkan dapat mendorong seluruh peserta untuk terus belajar sepanjang hayat, menjaga adab dalam mencari ilmu, serta menjadikan pengetahuan sebagai jalan pengabdian kepada Allah SWT dan kemaslahatan umat.
Pada akhirnya, keutamaan ilmu tidak hanya terlihat dari seberapa banyak seseorang mengetahui sesuatu, tetapi juga dari sejauh mana ilmu itu membimbing dirinya kepada kebaikan dan menghadirkan manfaat bagi orang lain.[]

0 Komentar